Penjual Ayam Potong

Suara ayam berkokok pertanda hari akan pagi, dijalan penuh kabut. Susan biasa bangun dipagi hari, ia kelas XII di SMA Kebangsaan. Setiap pagi selalu membantu ibu memasak untuk sarapan dan bekal untuk ke sekolah. Ibunya Susan bekerja sebagai buruh cuci dan setrika dirumah tetangga. Ayahnya penjual ayam potong dipasar. Setiap jam 2 pagi ayahnya menyembelih ayam dan membersihkan bulu ayam sampai bersih. Setelah bersih ayamnya dibawa ke pasar untuk dijual. Susan adalah anak pertama, ia mempunyai adik bernama Dio. Susan biasa ke sekolah naik sepeda bersama Wina. Jarak sekolah dari rumah sekitar 5 km. mereka selalu berangkat lebih awal agar tidak terlambat kesekolah. Mereka aktif dalam beberapa Ekstrakurikuler dan Osis.

Saat dirumah Susan biasa diminta ibunya untuk menjaga adiknya, adik Susan umur 9 tahun. Saat tugas kelompok bersama teman-temannya, Susan juga sering mengajak adiknya karena tidak ada orang dirumah.

Suatu hari saat sepulang dari pasar ayah Susan ditabrak mobil sampai tak sadarkan diri. Warga yang ada didekat lokasi kecelakaan langsung membantu membawa kerumah sakit. Sesampai dirumah sakit ayah Susan belum mendapatkan perawatan sebelum keluarga datang.  Setelah ibunya Susan mendapat kabar dari tetangga kalau suaminya kecelakaan ia langsung mendatangi rumah sakit bersama Dio. Setelah ibunya susan datang dokter langsung menangani Ayah Susan. Karena parah dibagian kaki dan kepala ayah susan masih tetap belum sadarkan diri. Dokter memberitahu kemungkinan besar kaki ayah Susan patah dan butuh waktu lama untuk pulih kembali. Pemilik mobil yang menabrak akan membantu pengobatan sampai ayah Susan pulih kembali. Saat itu susan menyusul kerumah sakit sepulang dari sekolah, Susan langsung menangis dipelukan ibunya. Karena hari sudah mulai malam, ibu Susan meminta Susan untuk pulang kerumah bersama adiknya. Karena tidak baik untuk kesehatan berada dirumah sakit lama-lama. Susan mengajak adiknya pulang dengan memboncengnya menggunakan sepeda. Sesampai dirumah Dio lapar ingin makan, dan dirumah hanya ada nasi. Susan pun menyuruh Dio untuk nonton televisi lalu Susan menggorengkan telur untuk Dio. Karena hanya ada 1 butir telur, susan pun memasak telur itu dengan menambahkan tepung agar bisa menjadi banyak. Setelah selesai masak susan membagi dua dan menyiapkan untuk makan bersama adiknya. Setelah selesai makan Dio tertidur di depan televisi, Susan tidak menyuruh adiknya untuk pindah ke kamar karena takut kalau sudah kebangun nanti susah untuk tidur lagi ia pun menyelimuti adiknya. Susan mencuci piring lalu mengerjakan PR  di dekat adiknya tidur. Setelah selesai mengerjakan PR Susan memastikan pintu dan jendela sudah terkunci. Susan memasang alarm untuk bangun pagi besok,

Alarm pukul 04.30 wib sudah berbunyi, Susan segera bangun mencuci beras untuk dimasak. Setelah beras dimasukkan ke rice cooker Susan pun pergi ke pasar untuk membeli telur dan mie instan. Setelah membeli Susan memasak mie dan telur untuk bekal ke sekolah. Setelah semua selesai Susan mandi, selesai mandi ia membangunkan adiknya untuk mandi. Susan mempersiapkan sarapan dan memasukkan bekal di tas Dio. Waktu sarapan bersama Dio, Susan berpesan ke Dio waktu pulang harus segera pulang untuk mengerjakan PR dan tidur siang. Setelah selesai sarapan Susan mengantar Dio lalu lanjut ke sekolahnya.

Siang setelah pelajaran jam terakhir selesai Susan meminta izin untuk tidak ikut ekstrakurikuler karena akan menjaga ayahnya dirumah sakit. Selesai izin Susan pulang untuk mengganti baju dan mencuci kotak bekalnya. Susan melihat adiknya tertidur lelap, ia tidak tega membangunkan. Susan menyiapkan baju untuk ganti ayahnya, lalu ia pun berangkat kerumah sakit sendirian dengan sepeda. Sesampai dirumah sakit Susan memberikan baju ke ibunya untuk digantikan ke ayahnya. Selesai menggantikan baju ibu susan pulang untuk mandi dan bersih-bersih. Malamnya ibu Susan kembali ke rumah sakit untuk menggantikan Susan agar susan bisa belajar dirumah. Susan pun kembali pulang, sesampai dirumah Susan melihat dimeja makan sudah tersaji sayur dan tempe goreng. Susan pun langsung makan karena sudah kelaperan, adiknya bermain robot-robotan di depan televisi. Selesai makan susan mencuci piring lalu mencuci baju dan mandi, setelah mandi Susan mengerjakan PR disebelah adiknya bermain. Karena kecapekan Susan pun tertidur, Dio pun mengunci pintu dan jendela lalu ikut tidur disebelah Susan.

Seminggu kemudian Ayah susan dibawa pulang, ibunya Menggantikan berjualan ayam potong dipasar. Ayahnya susan tidak dapat berjalan hanya duduk dikursi roda, ayahnya pun membuat kerajinan dari anyaman bambu seperti topi untuk disawah, tampah untuk menjemur ikan, dan keranjang bambu untuk wadah rumput sapi dll. Selain anyaman bambu juga membuat anyaman tali plastik untuk dijadikan tas. Sepulang sekolah Dio membantu ayahnya beberes sampah anyaman. Sedangkan susan membantu keliling berjualan hasil anyaman ayahnya.

Waktu itu sekolah libur, Susan diminta ibu untuk berjualan ayam potong di pasar karena ibu akan mengantarkan ayah untuk periksa ke rumah sakit. Susan dari subuh sudah dipasar, ia baru pertama kali berjualan ayam potong sendiri. Awalnya ia sedikit takut salah potong atau salah menimbang, ternyata pelanggan-pelanggan orang tuanya baik semua, bahkan uang kembalian ada yang tidak diambil dikasihkan untuk Susan jajan. Karena sudah sore dan hanya tinggal sisa ceker ayam, Susan pun beberes dan pulang dengan sepeda. Karena membawa keranjang besar dibagian belakang, Susan tidak berani untuk menaiki sepedahnya.

Sepulang dari rumah sakit ayah dan ibu Susan naik angkot karena jarak rumah sakit ke rumah lumayan jauh. Saat di perempatan lampu merah ayah dan ibu melihat Susan menuntun sepeda dari seberang jalan, ayah memanggil Susan. Susan pun menengok dan melambaikan tangan, Susan pun berteriak ,” ayah ibu turun.” (Sambil menangis san menjatuhkan sepedanya) karena Susan tau dari arah belakang angkot ada truk tronton yang kehilangan kendali karena rem blong menabrak beberapa pengendara motor lalu menabrak angkot yang ditumpangi ayah dan ibu Susan. Truk tronton itu juga menabrak pembatas jalan, hingga menabrak ruko baru bisa berhenti. Suasana dijalan sangat kacau, Susan langsung mencari ayah dan ibunya dan dilarang mendekat oleh warga sekitar karena menunggu polisi. Setelah polisi dan Ambulance sudah berada di tempat kecelakaan, Susan pulang dengan tangan dan kaki gemetaran, air mata yang terus menetes. Ia menjemput Dio untuk diajak kerumah sakit, mereka berdua naik sepeda sejauh 8km untuk mengetahui keadaan kedua orang tuanya. Saat sampai dirumah sakit banyak keluarga yang menagis histeris karena banyak yang tidak selamat dalam kecelakaan maut ini. Susan dan Dio pun juga menangis menghawatirkan keadaan kedua orang tuanya. Tidak beberapa lama ada 2 pasien juga yang akan dipindahkan ke kamar mayat, Susan dan Dio pun melihat kedua pasien itu. Mereka membuka kain penutupnya ternyata ayah dan ibu mereka. Seketika mereka langsung menangis sambil memeluk orang tuanya yang telah tiada.

Kedua orang tua mereka di mandikan dan dikafani oleh pihak rumah sakit, lalu mereka ikut pulang dengan mobil ambulance yang membawa kedua orang tuanya.

Sesampai dirumah warga sekitar sudah berdatangan dan membantu mempersiapkan pemakaman kedua orang tua mereka. Susan dan Dio di tenangkan oleh bu Hest tetangga dekat mereka. Bu hesti meminta untuk Dio dan Susan bersih-bersih badan dulu dan mengganti baju sebelum ikut ke pemakaman kedua orang tuanya. Tetangga-tetangga banyak yang berdatangan membantu merangkai bunga untuk di atas kain hitjau dan mempersiapkan yang lainnya. Setelah  disholatkan siap untuk diberangkatkan ke TPU. Selesai pemakaman Dio dan Susan diajak pulang oleh bu Hesti. Saat dirumah Dio dan Susan tetep keingat kedua orang tuanya, mereka menangis, bu Hesti pun menenangkan mereka. Bu hesti pun memberi tahu Susan agar sabar dan tetap melanjutkan sekolah sampai lulus, karena kurang setengah semester sudah kelulusan. Susan pun menerima semua nasihat-nasihat dari bu Hesti, bu Hesti juga memberi tahu kalau untuk menjaga adiknya dan makan adiknya Susan masih sekolah susan tidak perlu kuwatir. Bisa ke tempat bu Hesti, bu Hesti itu salah satu pelanggan tetap ayam potong ayahnya Susan karena bu Hesti berjualan masakan dirumahnya. Banyak bantuan dari warga-warga hingga Susan dan Dio tetap bisa bersekolah.

Setelah selesai ujian dan Susun lulus SMA, ia melanjutkan pekerjaan orang tuanya yaitu berjualan ayam potong di pasar agar tetap bisa menyekolahan Dio hingga dewasa nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published.